K H U N G D A N U, ALIAS ARIO DANURWENDO [RAJA KE-3 SUMENEP], BERJULUK DANU KUSUMO PALGUNADI Dan memiliki nama Islam Abdurrahman.
I. Jati Diri :
Khung Danu punya saudara Kembar (Adik bernama Khung Athi alias Adi Marsodo dengan nama kerajaannya Arya Ganda Pati, yang kelak sebagai raja keempat di Keraton Sumenep .
Keduanya (kaka Adik) selalu bersama, dimana ada Khung Danu disitu ada Khung Athi. Kalau kata Khung Athi jangan berangkat, maka Khung Danu tidak melaksanakannya. Namun dinilai dari kesaktiannya, Khung Danu lebih unggul.
II. Jabatan :
Khung Danu awalnya sebagai Raja ke-3 Sumenep, setelah Raja Ario Bangah dan Aria Wiraraja. Jabatan Raja merupakan pemberian dari Ayahandanya (Ario Bangah) yang punya keraton di Banasare tahun 1292-1301 Masehi. Sedangkan Raja pertama Sumenep Aria banyak Wedi (AriaWiraraja) mempunyai keraton bertempat di Batu Putih memerintah sejak 1269-1292 Masehi.
Sebagai Raja ke-3 Sumenep, Khung Danu dimulai sejak tahun 1301 – 1311 Masehi. Dengan keratonnya bertempat di Aenganyar Tanjung (Giligenting), ini dibuktikan dengan adanya sejumlah peninggalannya, berupa keraton dan pusaka, yang sekarang dipegang oleh para pewarisnya.
Kenapa keraton Khung Danu ada di Giligenting? Dalam perjalanan jabatannya sebagai Raja, Khung Danu mendapat amanat untuk menjaga Rangsum (Logistics) Kerajaan Majapahit yang pada waktu itu menghadapi Kerajaan Kediri & Singosari. Pusat Logistic itu ditempatkan di Giligenting. Sehingga, Khung Danu mendirikan Keraton di Giligenting tepat berada di depan Rumah Abdul Gani (Desa Aengnyar).
Namun, Keraton Khung Danu, tenggelam ke perut bumi seiring tenggelamnya Kerajaan Sumenep yang ada di Batu Putih. Meski demikian menurut Sam Syarifudin jika di Gali lahan depan rumah Endung tadi akan ditemukan bukti sejarah tersebut. Diyakini bila ada orang bangun rumah dan lainnya fdi depan endung tersebut orangnya akan meninggal.
Pada masa pemerintahannya, Khung Danu punya patih, yang ada di Tanjung Aengnyar Giligenting (Tangge’ Beliker, yang dulunya bernama Tanjung), namun karena patih Khung Danu tadi mau memberontak, maka Khung Danu yang saat itu sedang dalam pertapaan di Banyuwangi (bertapa di pucuk Daun Lontar tidak bertulang/tidak berlidi) maka Khung Danu Pulang ke Giligenting dan bersumpah bahwa patih-nya yang ada di Tanjung itu tidak akan pernah bisa berkhianat kepada Khung Danu.
Waktu itu Khung Danu menancapkan pusakanya yakni tongkat pemecah lautan sehingga nama Tanjung terjubur. Dan bekas rumah patih khung danu ada di belakang rumah (Alm) H Hasan (orang tuanya H. Edi Ahmad Rawidi) yang saat iui ada Kp. Mandng Desa Aengayar.
III. Tempat Pertapaan :
Gua Kahuripan, yang berada di ujung Timur Pulau Giligenting adalah tempat bpertapaan Khung Danu. Bahkan hingga sekarang, gua peninggalan khung Danu itu, dijaga oleh pengawal/piaraan Khung Danu, antara lain Macan Putih, Ular Putih.
Jadi kalau kahuripan berjumpa dengan dua hewan itu di Kahuripan biarkan saja jangan diusik. Di Kahuripan sampai saat ini merupakan tempat bersidangnya Khung danu dengan para Wali Songo. Dan setiap malam Jum’at manis akan terdengar suara klenengan dari Kahuripan. Ini akan didengar hanya oleh darah daging atau keturunan Khung Danu.
Dengan demikian, Pulau Giligenting diberi nama Giligenting oleh Khung Danu. Giligenting artinya Pulau Tempat Memecahkan Masalah (Genting = gawat) sehingga sampai saat ini di Kahuripan Giligenting diyakini masih menjadi tempat bersidangnya para wali songo dan Khung Danu.
Menurut Syarifudin, bisa jadi kelak untuk kemajuan Madura (Madura menjadi Propinsi misalnya) harus dimulai dari Giligenting, ya semoga, Ormas FKLMJ (Forum KOmunikasi LIntas Madura Jakarta) direstui sepenuhnya oleh Khung Danu, Khung Athi, Khung Sainuddin, Khung Su’it, Khung Sa’rani dan lainnya sebagainya, sehingga menjadi playmaker kemajuan Madura.
IV. Peninggalan Ilmu Kesaktian & Pusaka :
1. Menurunkan 2 (Dua) Buah Kotak, Kotak Pertama, berisi Ilmu Kanuragan Putih, saat ini ada di pewarisnya Mohammad Syarifudin (Sam Syarifudin., Kotak Kedua, berisi Ilmu Kanuragan Hitam ada di keturunan Khung Ali (Ada di Pulau Giliraja)..
2. Pusaka Pamungkas Khung danu ;
2.1. Calo’ Kodi : Senjata terbang dengan sendirinya atas perintah yang memegang (yang punya) untuk bunuh orang.
2.2. Pusaka Tongkat pemecah laut 2.3. Pusaka Karocok. 2. 4. Pusaka. Pacca’. Pusaka lainnya banyak bertaburan di para murid Khung Sainuddin. Seperti pedang keris, Cincin dan lain sebagainya. Khung Danu juga memiliki sahabat Ikan Hiu Putih sebagai sarana untuk nyebrang ke daratan (Madura). Untuk itu, sumpah Khung Danu, seluruh keturunannya dilarang makan ikan hiu.
V. Keturunan :
Putra-putri (keturunan langsung) Khung Danu ? (hingga kini belum ada data)
Namun, Ponakan Khung Danu : 1. Khung Ali (Giliraja) 2. Khung Juthe’ alias Yudopati (Beringsang)
Dan Cucu’ (langsung=generasi ke-tiga ) Khung Danu antara lain :
1. Khung Sainuddin Raden Panji (RP) Sainuddin, berjuluk Khung Purwodirdjo/Purbodirdjo
Khung Sainuddin menikah dengan Khung Halima dan punya anak 24 orang, namun hanya satu yang hidup yakni bernama Tomburiyati alias Khung Etti’. Khung Etti’ Saudara sepupu Khung Sa’rani. Khung Etti’ bersuamikan Mat Hatun mempunyai anak 4 orang, salah satunya Mohammad Syarifudin (Nama Mohammad Syarifudin merupakan nama Wangsit dari Khung Danu). Muhammad Syarifudin alias Sam Syarifudin (Pak Endeng+Panggilannya).
Sampai kemudian Khung Sainuddin ditugaskan ke Beringsang dan menjadi Kalebun (kades) pertama di desa Beringsang. Khung Sainuddin banyak memiliki murid, dalam arti banyak orang Giligenting waktu itu berguru silat dan ilmu kesaktian kepada KhungSainuddin . Bahkan pusaka-pusaka Khung Sainuddin banyak yang dipinjamkan kepada para muridnya, sehingga senjata Khung Sainuddin yang notabene miliki Khung Danu bertebaran dimana-mana.
Salah satu murid Khung Sainuddin adalah H. Mustar (Nama Aslinya adalah Matrais) yang notabene orang tua dari 1. Bpk. Rida'i 2. Ibu Hj. Salma, Bpk. Sui't 3. Bpk. H Saifullah
2.Khung Sama’un (taretanna) Khung Sainuddin, Khung Sama’un adalah Bapak dari Khung Sa’rani (Hj. Aisyah) Beringsang Ini berarti Khung Sa’rani ponakanna Khung Sainuddin. Khung Sa’rani kawin dengan Ke Sya'rani ( Nama Aslinya Sumarto) dan punya anak 4 orang, 1. Sa’rani 2. Salma/Sumira 3. Suwardi 4 Saenal Abidin.
4. Khung Phura’’I/Khung Rida’i (taretanna) Khung Sainuddin. Khung Rida’I
5.Khung Santa (Kelurahan Kepanjin Sumenep) sekarang keturunannya adalah Kyai Said (Pangarangan) Sumenep.
6.Khung Hosen ( Pulau Sepudi)
(***Tim Yayasan Ario Danurwendo).
Catatan :
Tanpa izin dari Para keturunan, Konten ini juga telah diambil oleh Saudara Badrus Sholeh Makmun (Konten Kreator) dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Raja Ke-3 Di Sumenep Gili Genting", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/bete.elhubb/54ff640fa333113244510719/raja-ke-3-di-sumenep-gili-genting